Posted by: M'Creative | 8 June 2009

Oleh-Oleh Kelud


Kelud Saat ini

Minggu, 31 Mei 2009 cuaca di kota kediri sangat cerah dan bersahabat. Berangkat dari Gringging (dari Guyangan Nganjuk (timbangan mobil muatan) ada perempatan belok kanan lurus terus sampai ada petunjuk jalan, kalau belok kiri ke kediri, ikuti jalan tersebut sampai ada perempatan lalu belok kanan) jam 08.00 dengan 3 orang temen saya, gandhos, fathur dan kakaknya (mas Jamal). Setelah mengisi bahan bakar sepeda motor kami berangkat. Untuk sampai ke kelud ada beberapa jalur (katanya sih, soalnya saya juga belum hafal rutenya). Yang saya tahu dari pabrik gula Santren terus ada pertigaan belok kanan dan terus ikuti jalan raya (jangan sampai belok ke gang/ jalan aspal kecil). Nanti juga ada petunjuk jalan ko’.

Kebun nanas KeludMemasuki kawasan kelud, di kanan kiri jalan terdapat banyak sekali kebun nanas. Setelah bayar karcis masuk ( 2500/orang) kami meneruskan perjalanan. Untuk mobil untuk sementara tidak bisa masuk, hal ini dikarenakan ada badan jalan yang longsor sehingga tidak memungkinkan mobil untuk lewat.

Lereng Kelud_3

Lumayan jauh juga sekitar 1 jam perjalanan menanjak dan berkelak-kelok akhirnya sampai juga. Sayang sekali kabut turun menyebabkan pandangan menjadi agak terhalang.

Lereng Kelud_4

Sebelum memasuki area kawah kelud terdapat area parkir yang cukup luas, sudah di paving dan aspal sehingga tidak becek ketika hujan.

Bersama Kelud

Gunung Kelud memang tidak begitu tinggi, kurang dari 2000 DPL, udaranya juga tidak begitu menusuk tulang.Dari area parkir kami berjalan kaki menuju kawah.

Agak terkejut juga, karena harus melewati terowongan gelap sekitar 200 m. Saya mencoba mengambil gambar di dalam terowongan, namun hanya berhasil sekali.

Badan Terowongan Kelud Ketika berjalan di terowongan mata tidak bisa melihat apapun kecuali pintu keluar yang mendapat cahaya masuk, yang ada hanya suara obrolan para pengunjung.

Akhirnya kami sampai di kawah, namun sekali lagi sayang seribu kali sayang. Angan-angan untuk mandi air hangat di kawah belum bisa terwujud. Kawah yang dulunya ada sumber airnya sekarang yang keluar adalah bebatuan sekitar 100 m dan akan terus bertambah tinggi. Entah kapan kawah kelud bisa seperti dulu lagi, padahal saya baru sekali ini ke kelud.

Kawah Kelud

Puas menikmati panorama alam, kami lantas mencoba untuk mendaki, sudah ada jalan yang diplester, sampai puncak yang ada hanya tempat peristirahatan, tiada angin, tiada dingin, yang ada hanya kabut.

Puncak Kelud 3

Puncak Kelud_1

Puncak Kelud_2

Tak lama kami turun, titik-titik ari hujan mulai turun dan bressss,,,, hujan pun, namun kami sudah sampai di terowongan sehingga tidak kehujanan.

Melewati terowongan kali ini berbeda, mungkin karena tempatnya yang gelap sehingga banyak pasangan muda-mudi yang berdua-duaan di dalam terowongan, namun tidak terlihat hanya terdengar suaranya saja. Dalam hati, semoga saja mereka melakukan itu karena ketidak tahuan mereka.
Keluar dari terowongan hujan malah semakin deras, memaksa kami untuk berteduh.

Sekitar satu jam hujan baru reda, sambil menikmati gorengan dan kopi panas kami bersantai sambil meluruskan kaki yang agak pegel.

Namun malah area parkir semakin penuh lantaran banyak pengunjung yang baru datang.

Tidak terlalu puas aku bilang, kurang begitu menantang. Kami pun pulang, sayang sekali lagi sayang hujan turun lagi dan semakin deras memaksa kami berteduh untuk sementara waktu.

Sambil mengungg hujan reda kami ngobrol sana sini dengan 2 orang pengunjung yang juga berteduh. Tak sengaja kami diingatkan akan jalan yang katanya melawan gravitasi. Jalan tersebut agak menanjak namun sepeda motor akan megelinding naik jika mesin dimatiin dan gigi kondisi nol.

Hujan reda dan kami siap untuk mencoba akan berita itu. Terdapat papan bertuliskan “Mysterius Road”. Lalu kami mencoba matiin mesin dan memang benar, motor kami malah menggelinding seperti di turunan. Namun jangan anda bayangkan kalau jalanya nuanjak. Jalannya biasa tidak terlalu nanjak malah kalau dilihat secara teliti seperti datar.

Gravitasi kelud_1

Gravitasi kelud

Well, hujan turun lagi dan berteduh lagi. Sekitar jam 02.30 kami sampai di Pabrik tebu Santren dan balik lagi ke gringging.

Buat temen-temen Palawa

Setinggi-tingginya gunung masih tinggi telapak kaki kita!

Seluas-luasnya ilmu kita masih luas setetes air dari lautan.


Responses

  1. waaah.. gawat doong kl harus hujan2an pas di atas.. berarti hrs sedia jas hujan niih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: