Posted by: M'Creative | 1 January 2010

Welirang


Jumat, 26 Okt 09.

Hemmmm, Setelah capek kerja bakti acara halal bihalal, sekitar jam 12 malam, temen-temen dengan cekatan dan siggap mempersiapkan segal perlengkapan dan kebutuhan yang ada. Sengaja kami tidak membawa logistik, dikarenakan menambah beban berat. Diputuuskan membeli logistik setelah sampai di Pandaan.

Ember, Ambon, Miftah dan aku sendiri tentunya segerra berangkat meninnggalkan kampung damai PULE. Terminal yang sekarang pindah di dekat kampung sangat membantu kami, sehingga tidak perlu jauh2 untuk mendapat angkutan umum.

SK. Sumber Kencono yang kami tumpangi kebetulan menyeediakan tempat paling belakang untuk kami sejenak istirahat selama perjalanan. Jam 00.30 kami benar-benar meninggalkan pule.

Sesuai dengan rencana, kami tiba di bungur jam 5 pagi. Kami beri kesempatan bagi Embeer untuk singgah di Kost, sementara kami lebih meemilih menikmati suasana terminal pagi haari yang belum ramai dan penuh sesak orang-orang. Bungur merupakan terminal terpadat di Indonesia meleebihi Pulogadunng jakarta, sekaliguus terbesaar se Asia Tenggara.

Kebingunngan sempat menghampiri benak kami. Tidak ada seeorangpun yang mengetahui arah ke mana kami harus melanjutkann peerjalanan. Satu-satunya referensi adalah print out yang kami bawa dan itupun tidak banyak membantu sebab rute yang diambil dari Malang.

Alih-alih, kami telponn sana-sinni dan hasilnya tidak sia-sia.

Pukul  06.00 kami meninggalkan Bungur menuju terminal pandaan yang berjarak tidak begiitu jauhh, sekitar 45 menit, jika pagihari sebab tidak macet. dalam perjalanan kami  terkkagum-kagum melihat deretan gunung  yang menampakkan keperkasaan dan kekuatannya. Gunung  Welirang, Kembar, Ringgit jugaArjuno.

Sambil menghangatkan tubuhh dnegan kopi panas dan tempe angeet, kami meluruskan kaki di terminal Pandaan. Jam 07.30 kami mulai meninggalkan Pandaan. Dengan seebuah angkutan umum kami lanjutkan peerjalanan menuju Tretes (gerbang Pendakian). Sesuai rencana, kami berrhenti di sebuah toko waralabaa untuk membeli bekal. Mie instan dan air mineral tentunya. Tidak tanggung2, kami membeli 12 botol, satu orang 3 botol ukuran  1,5 liteer.

Akhirnya sampai juga di tretes sekitar pukul 08.15. Rasa kecewa sempat  kami rasa ketika mendengar pendakian arjuno ditutup lantaran terbakarnya hutan arjuno. Namun perjalanan kami alihkan ke Welirang.

Kami sangat beruntung karena ada pendaki yang menemani sekaligus meemandu kami, Cak udin yang telah berkali-kali mendaki welirang juga arjuno.

Pos Petugas Penjaga Gerbang Pendakian Tretes

Tiket masuk seharga 5000 / orang telah kami dapatkan. pendakian pun dimulai pukul 09.00

Aneh. Aneh dan sangat terrasa aneh bagi kami. Di atas ketinggian lebihh dari 1000 m DPL, kami tidak merasa suasana sejuk atau dingin, malah sebaliknya, panas menyengat terasa membakar kepala.

Pos Pertama Welirang

Sampai pos pertama, kami istirahat. Saya langsung tidur karena tidak  kuat seddang temen-temen leebih memilih makan siang. Di sini masih ada seoarang penjaja makanan gorengan, mie rebus juga teh manis. Agak ramai sebab memang di sinni biasanya para pendaki memabuat tenda penginapan, terutama yang memang tidak berniat sampai puncak .  Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan. Semakin tinggi, bukan semakin sejuk, tapi malah samakin panas menyengat.

Stok Sumber Air

Untuk sejennak kami berhenti sambil menikmati segarnya air yang keluar dari pipa yang entah milik siapa, terasa sangat meenyeegarkan……

Perjalanan masih jauh, belum ada separuh peerjalannan, namun terasa berat bagi kami. Tidak seperti yang kami rasakan keetika ke Lawu. Entah berapa kali kami  beerhenti untuk  memberi kesempatan kaki mengumppulkan kekuatan.

Kami sempat melihat beberapa kera jawa yang berrbulu hitam pekat beergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Bahkan Ayam Alas pun sempat menuntuk kami hampir 1 km, sampai akhirnya menghilang di semak  beelukar.

Pondok Petani Belerang ( Dari sini yang ke kiri Arjuno yang keekanan (lurus) Welirang)

Waktu terasa begitu lambat beerjalan, menuntun kami sampai tiba di pondok tempat para petani beleerang menginap dan mengais rejeki dari dinginnyapuncak weliranng  yang penuh dengan tambang belerang.

Pendakian semeentara kami hentikan. Puji Tuhan yang Maha Rahman. Kami mendapat sebuah pondok kosong untuk tempat kami menginap malam itu. Kami memang tidak membawa tenda sebab memang tidak punya. Bersama ca Udin, ember, ambon dan miftah kami seepat mungki membersihkan tempat dan mencari kayu bakar, takut kebburu gelap. Sebilah parang yang kami bawa benar- benar sangat membantu kami untuk memb elah kayu pinus yang masih berbeentuk gelonndongan.

Saat sore menjelang magrib dan Isya, suasan begitu beerbeda, sangat dingin dan menusuk tulang.

Panasnya air kopi dan mie rebus tidak begitu berpengaruh, kalah dengan dinginnya udara.  Satu peersatu dari kami masuk ke pondok, sampai saya yang terakhir bereada di luar. Gelap mencekam dan dingin menggigit. Setelah membersihkan perapiann agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan ketika kkami tidur, saya merebahkan tubuh saya di palinng pinggir dekat pintu. Perapian yang masih menyala tidak banyak membeeri panas yang  cukup sehiingga terasa sangat dingin.

Upacara sebelum melanjutkan pendakian alias sarapan

Jam 02.00 saya bangunkkan teman-teman. Api pun menyala dengan sebuah panci di atasnya. Hemmmm nikmat, walaupun agak kotor karena beercampur dengan abu tapi tidak masalah bagi kami, karena tidak terlihat.

Jam 03.00 pondok pun kami tinggalkan………. melanjutkan pendakain puncak welirang yang tinggal beberapa kilo lagi.

Rute pendakian memang sangat sulit, munngkin karena banyaknya debu / tanah humus kering yang kalau diinjak, maka1 cm dari kaki akan tenggelam dalam debu, dan debu yang berterbangan sangat menngganggu pernafasan, walaupun tidak begitu terlihat dikarenakan malam hari.

Senja merah di fajar timur mulai terlihat, ketika kami mulai benar2 memanjat tebing gunung

Melihat matahari terbit adalah yang ditunggu-tunggu, walau belum sampai puncak, namun pemandangan terlihat sangat  luar biasa.

Saya sempat muntah entah berapaa kali. Seteleh hampir 1 tahun puasa, haari itu saya meembatalkan puasa sampai artikel ini ditulis.

Jam 06.30 kami sampai di puncak welirang yang arealnya luas dengan semburan gas yang menghasilkan beleerang. Gasnya memang panas, tapi bunga beleerang  yang dihasilkan terasa dingin. Sepeerti kebiasaan, kami lagsunng bagi-bagi tugas, cari kayu baka membuat perapian dan memasak mie rebus.

Diiringi tawa canda temen-temen  semakin menambah hangat suasana walau udara terasa dingiin, namun tidak sedinginn Lawu.

Maha Besar Tuhan. Pemandangan yang sangat indah..

Setelah puas, dengan berat hati kami meninggalkan puncak menuju tambang beleerang yang ternyata tidak kalah inndahya. Tampak kepulan asap kelyuar dari bebatuan warna kuninng. Aroma yag tercium benar-benar belerang, sangat menyengat hidung dan membuat kami menahan nafas jika melewati kepulan asap tersebut.

Dengan membawa cerita dan semangat baru kami menapakkan kaki, setapak demi setapak melewati jalan yang biasa dilewati petani beelerang.

Kami  sengaja mengambil rute jalan yang beerbeedda ketika pulang, jallan agak landai dan tidak lagi melewati tebing.

Bunga Edelweis yang mekar tidak seindah di Puncak lawu. Mungkin karena hawa beeleerang dan cuaca yang kurang dingin.

Sampai di Pondok Sekitar pukul 11 siang, beerssih bersih diri jkarena debu yang meenempel di sekujur tubuh. mulai dai ujung kaki sampai pangkal paha semua berdebu. Tapi percuma juga sebab jalan  berdebu masih harus kami  lewati seekitar 500 m lagi. Air minum habis sudah. Sebenarnya 3 botol / orang sudah cukup, namun karena terllalu berat terpaksa dikurangi 1 botol perorang dan di simpan di semak2 jauh dibawah.

Jam 13.00 kami tiba di pos pertama. Saaya yang paling kecapekan tidak banyak yang saya kerjakan selain minum teh manis panas untuk energi.

Sinyal Indosat muncul, namun turun berapa meter, sinyal hilang. Sya yang beerjalan paling belakang terpaksa harus beerlari smbil menjinjinng sendal menurunni jalanan bebatuan yang terjal. Sesekali mengambil jalan pintas untuk mempercepat perjalanan.

Tidak lama saya berlari sekitar 1 jam, akhirnyabisa menyusul meereka ketika istirahat di tempat dimana kami menyimpan botol air minum. Kejadian lucu terjadi, botol yang kami simpan diambil orang lain dan di pindah ke tempat lain, namun kami berhasil menemukannya.

Sekitar pukul 16.00 kami sampai di perumahan penduduk. Minum teh hangat seteelah membersihkan diri terasa sangat menenangkan. Capek dan lelah seakan terbayar.

Jam 17.00 kami mulai meninggalkan Tretes menuju pandaan. Sampai akhirnya sampai di bungur.

Sekali lagi kami mujur, bus Mira Ac yang kami tumpangi kosong sehinga benar-benar sangat tarasa nyaman.

Zzzzzz Zzzzzz Zzzzzzzz……. Semua teerlelap dalam mimpi dan lelah, oleh-oelh dari welirang………

Kegiatan :

1. Ngawi -Bungur           00.30 – 05.00  Rp. 26 Ribu

2. Bungur – Pandaan     06.00 – 07.00 Rp. 6 ribu

3. Pandaan – Tretes       07.30 – 08.15  Rp   5 Ribu

4. Mulai pendakian dari gerbang pendakian tretes tiket Rp. 5000

5. Pos Pertama              12.00

6. Tiba di pondok         17.00

7. Mulai melanjutkan pendakian 03.00

8. Sampai Puncak – 06.00

9. Keliling Tambang belerang – 07.00

10. Turun gunung – 09.00

11. Sampai  di pondok –  11.00

12. Sampai di Pos 1  – 13.00

13. Sampai di peerumahan pnduduk  – 16.00

14. Menuju bungur dari tretes – 17.00

15. Menuju Ngawi dari Bungur – 19.00

16. Sampai Rumah   – 00.30

Link Fhoto


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: