Posted by: M'Creative | 11 January 2010

Lawu, 18 – 19 Juli 2009


Menjadi acara tahunan untuk menapakkan kaki di puncak Lawu (Magetan, Jawa Timur). Setelah mengecek perbekalan yang akan dibawa, berangkat kami naik sepeda motor dari rumah jam 15.30. Jumlah kami 6 orang (gandhos, ember, miftah, pandu, tapid n aku sendiri tentunya). Karena rumah kami Ngawi (Watualang) maka jalan yang kami tempuh adalah jogorogo, kendal, panekan, magetan,sarangan, cemoro sewu sebagai tempat kami mulai pendakian. Itu adalah jalur terdekat untuk sampai ke cemoro sewu.

Sampai di paron kami mampir di Indomaret untuk membeli perbekalan dan camilan. Jalan Jogorogo-Panekan memang berliku dan naik turun, maklum termasuk kaki gunung Lawu. Jalur menuju cemoro sewu telah dibuat sehingga tidak melewati sarangan, tetapi di atas sarangan. Dari atas telaga sarangan terlihat menawan. Pemerintah mungkin sengaja membuat jalan ini bukan sekedar untuk transportasi tapi juga sebagai obyek pariwisata, banyak warung-warung kecil di pinggir jalan menuju cemoro sewu. Motor salah satu dari kami sempat berhenti karena tidak kuat, memaksa kami untuk berhenti sejenak mendinginkan mesin. Kebetulan ada kendaraan F1 kuno ketika kami berhenti, fhoto-fhoto bersama yang terpikir saat itu. Perjalanan kami lanjutkan, namun sepeda motor tidak bisa membawa 2 penumpang, terpaksa salah satu turun. Jalan tersebut memang terlalu menanjak, bahkan Vega R baru yang bersama kami juga terpaksa menurunkan penumpang. Sekitar 300 m, jalan yang kami lewati agak landai sehingga kuat untuk boncengan. Udara terasa dingin.

Jam 5 lewat kami sampai di cemoro sewu. Setelah menitipkan sepeda motor (Rp. 5000/motor), kami berkumpul bersama ngopi sambil menunggu maghrib tiba.
Jam 6 masing-masing peserta dibagikan korek senter sebagai penerang. Setelah mengecek kembali semua peralatan dan perbekalan kami berangkat. Harga loket pintu masuk juga dari tahun sebelumnya tidak berubah Rp.5000/orang.

Mungkin karena bersamaan dengan libur panjang (sabtu, minggu, senin) kali ini banyak pendaki lain yang berasal dari berbagai daerah, semarang, solo, gresik, pandaan dll. Rute dari pintu ke pos 2 masih mudah dan tidak banyak menguras energi, namun setelah melewati pos 2 menuju pos 3, rute yang walupun sudah makadam, sangat menguras tenaga. Dalam pendakian, kerja sama tim adalah nomor 1, tidak boleh terpisah dari kelompok. Bila terpisah sendiri, akan berakibat fatal jika terjadi sesuatu.

Tidak semua fisik orang sama, ada yang fit ada juga yang mungkin kurang sehat. Dalam hal ini yang fit harus mengalah untuk membawa peralatan. Yang lemah harus berada di depan atau di tengah sehingga ketika butuh istirahat semuanya tahu dan bisa beristirahat bersama.

Sebelum mencapai pos tiga, saya sudah muntah-muntah. Kondisi perut kosong, seharusnya sebelum mendaki, makan nasi untuk mengisi perut. Saat itu saya puasa dan hanya minum kopi ketika buka dan langsung mulai pendakian.

Setelah makan mie instan kering dan badan terasa fit kami melanjutkan perjalanan. Belum sampai pos 3, salah seorang peserta kami muntah-muntah. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami pastikan bahwa semuanya benar-benar siap untuk melanjutkan pendakian. Dalam perjalanan menuju pos 3, hampir setiap tikungan kami berhenti untuk beristirahat. Kurang lebih pukul 11.30 malam, kami sampai di pos 3. Kami putuskan untuk istirahat sambil menghangatkan diri dengan membua perapian. Udara memang terasa sangat dingin. Tapi lebih dingin tahun sebelumnya.

Sudah terdapat 2 tenda dalam pos 3. Kami mangkel sebenarnya. Seharusnya tidak boleh mendirikan tenda di dalam pos atau membuat perapian, sehingga pos bersih dari abu sisa perapian dan nyaman untuk memuat lebih banyak orang yang hendak istirahat. Memang jika pengunjung sepi bisa dimaklumi, tapi jikalau ramai seharusnya hal itu tidak terjadi.
Tikar kami gelar, cari kayu bakar, menyalakan parafin dan mulai kami memasak nasi. Entah kenapa setiap kami memasak nasi (tim) belum pernah bisa jadi nasi. Mungkin karena dingin atau angin yang kencang sehingga panas yang dihasilkan kurang maksimal, padahal kayu bakar kami cukup. Parafin hanya sekedar penyulut api agar lebih mudah.

Tak lama berselang, banyak rombongan lain yang datang, ikut nimbrung sambil menghangatkan badan. Air mendidih yang kami buat untuk kopi terasa tidak panas, dengan beberapa tiupan kami sudah bisa meminum kopi panas tersebut tanpa merasakan kepanasan pada lidah.

Sial, ketika hendak buang air, kaki menginjak sesuatu yang lembek, ketika ku raba, ko’ seperti kotoran… Eladalah, malam yang indah nan sial, ternyata benar “TAI”. Manusia kurang ajar, ga tau bagaimana seharusnya dengan alam. Pesan saya “JIKA BUANG AIR BESAR / B-OL / NGISING / BERAK / BUANG HAJAT, CARI TEMPAT YANG AGAK JAUH DARI PERISTIRAHATAN, SETELAH ITU TIMBUN DENGAN TANAH ATAU BATU SEHINGGA TIDAK MENCELAKAI ORANG LAIN”

Perut terasa kenyang, walaupun kurang begitu nikmat, kami bersihkan sisa tempat kami istirahat. Setelah memadamkan bara api, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Ini adalah tanjakan terakhir yang akan dilewati. Ibarat mangatakan “Kuda cepat berlari tapi Gajah lebih kuat berjalan walau lamban”. Berjalan setapak demi setapak walau lambat, akan terasa lebih mudah dan tidak banyak menguras tenaga, sebab nafas kita teratur. Ini adalah cara yang paling efektif untuk yang secara fisik kurang mampu.

Salah satu dari kami sempat terpisah dan berjalan mendahului kami, tanpa pemberitahuan. Sambil berteriak kami memanggil, namun sialnya yang menjawab malah orang lain yang berada di bawah kami. Kami sempat khawatir, namun kami putuskan untuk meneruskan perjalanan.

Sampai di pos 4, kami bertemu dengan peserta kami yang terpisah. Jam menunjukkan pukul 2 pagi, sendang drajat tinggal 1 km lagi namun kami putuskan untuk melihat sunrise dari pos 4. Kayu yang kami bawa dalam perjalanan dari pos 3 ke pos 4 sangat berguna, karena memang kayu kering agak susah di cari, terlebih saat itu malam hari sehingga sulit membedakan kayu kering dan kayu yang masih basah.

2 teman kami sudah tidur pulas. Cuaca memang sangat bagus, langit cerah, angin bertiup tidak terlalu kencang, tidak begitu dingin. Perapian kami memang besar, karena memang kayu yang kami bawa benar-benar kering dan mramong. Sengaja saya membuat perapian di tengah-tengah, tempat kami istirahat memang seperti jalan, banyak pendaki yang baru pertama kali mendaki lawu bingung memilih jalan. Jalan selanjutnya menurun sehingga tidak terlihat, hal ini yang membuat para pendaki kebingungan ketika malam hari. Ada yang sempat berjalan jauh, karena tidak kami bertanya kami biarkan, takutnya mengira kami sok tau. Sekitar 20 menit rombongan itu kembali dan seperti kebingungan bertanya kepada kami.

Beberapa kali mendaki lawu, baru tau kalo ada sinyal Indosat di atas. Udara yang memang tidak begitu dingin menggoda kami untuk mencoba melepas baju sambil berapi-api. Sambil menunggu sunrise, kami menikmati kopi panas. Beberapa rombongan yang lewat sering ikut nimbrung menambah hangat suasana.

Pukul 5 pagi senja fajar mulai terlihat, merah jingga dengan langit yang cerah. Kami luangkan waktu untuk berfhoto bersama. Sekitar pukul 5.30 kami melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum puncak. Kami memang sangat beruntung, cuacanya benar-benar cerah dan angin berhembus tidak terlalu kencang. Sampai di sendang drajat, sengaja kami tidak berhenti karena puncak tinggal beberapa ratus meter lagi. Namun sayang salah satu dari kami memutuskan untuk tidak ikut dan istirahat di sendang drajat, mau tidak mau kami meninggalkannya sendiri tanpa merasa khawatir karena banyak pendaki lain di sana.

Bunga Edelweis juga telah berkembang walau belum sempurna. Perjalanan yang begitu melelahkan terbayar sudah dengan keindahan panorama puncak lawu. Langit biru hampir tiada bercak awan putih, mentari bersinar tanpa ada penghalang sedikitpun. Banyak rombongan yang mendirikan tenda di puncak, ada pula pasangan muda-mudi.
Tidak lama kami di puncak, pukul 6.30 kami sudah melangkahkan kaki untuk turun. Beberapa teman kami sempat membawa beberapa kuntum bunga Edelweis. Sampai di sendang drajat saya sempatkan untuk membawa air dari sendang tersebut. Pukul 7.30 kami benar-benar telah meninggalkan puncak lawu. Rombongan kami terpisah menjadi 2, saya dan 2 teman saya berada di belakang sedangkan 3 lainnya berada jauh di depan.

Sampai pos 2 saya masih kuat untuk menelusuri jalan yang walaupun menurun, namun terasa sulit juga. Saat itu kondisi fisik saya benar-benar lemah, sehingga tidak bisa berjalan cepat. Setiap berjalan cepat, perut terasa mual, pusing seakan mau pingsan. Entah berapa kali saya istirahat untuk memulihkan tenaga namun sepertinya tidak begitu banyak pengaruh, saya putuskan untuk istirahat dan menyuruh teman saya untuk meninggalkan saya. Kesalahan saya waktu itu adalah tidak membawa air gula atau makanan yang manis, sehingga energi banyak terkuras sedangkan saat itu saya memaksa untuk tetap puasa. Ketika hendak berbuka. bekal yang tersisa hanya beberapa bungkus kopi susu instan. Hampir 1 jam saya istirahat sambil menunggu teman saya untuk membawa makanan. Lama menunggu akhirnya saya melanjutkan perjalanan walau sangat lambat.

Beberapa kelokan menuju pos 1 saya bertemu 2 teman yang manyusul saya. Setelah minum teh manis hangat, tidak lama kondisi saya pulih kembali. Kabut turun menyambut kepulangan kami.

Sampai di gerbang masuk Cemoro Sewu jam menunjukkan pukul 12.30. Kata yang keluar adalah “PANAS”. Setelah merasakan dinginya puncak, dinginya udara sarangan tidak terasa dingin lagi.

Sambil merem melek kami mengendarai sepeda motor kami masing-masing. Kami memang belum tidur semenjak kemarin. Dalam perjalanan dari jauh terlihat gunung lawu tertutupi oleh kabut.

Sampai rumah pukul 15.30. Setelah mengecek barang-barang kami kembali ke pos masing-masing. Bersih-bersih diri dan terlelap. Malamnya siarang langsung Moto GP, Rossi jadi juara setelah berduel hebat dengan Lorenzo diikuti Pedrosa.

Jadwal Kegiatan
14.00 – Persiapan
15.30 – Pemberangkatan (Ngawi – Paron – Jogorogo – Kendal – Panek-an-Magetan – Sarangan – Cemoro Sewu)
17.00 – Sampai di Cemoro Sewu
18.00 – Mulai pendakian
23.30 – Istirahat di Pos 3
13.00 – Istirahat di Pos 4
06.00 – Menuju Sendang Drajat
06.30 – Sampai Puncak Lawu
07.00 – Turun
12.30 – Sampai di gerbang Cemoro Sewu
13.00 – Home
15.39 – Sampai Rumah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: