Posted by: M'Creative | 4 January 2013

Great Adventure of Mahameru, Semeru part I dari 4 part


Nama                    :  Semeru 

Puncak                  : Mahameru

Ketinggian           : 3676 mdpl (12.060 kaki)

Lokasi                    : Jawa, Indonesia

Koordinat            : 8°6′28.8″LS,112°55′12″BT

Jenis                      : Stratovolcanos (Aktif)

Tingkat kesulitan              : Advanced

Pendaki Pertama             : Clignet, 1838, Belanda

Rute termudah                 : Gubugklakah

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad

23 Agustus 2012. 00:00 WIB

Tulisan pertama dari 4 tulisan, pendakian gunung Semeru, Agustus 2012.

Kami bertiga memulai perjalanan dengan bis Sugeng Rahayu (Sumber Kencono) dari Ngawi menuju Jombang. Dijadwalkan sampai jombang pukul 03:00, untuk ngejar bis pertama yang ke Jombang – Landung Sari (Malang).

Hari lebaran menyebabkan bis terlambat sampai Jombang, lantaran padatnya kendaraan. Dengan ongkos 15rb / org, bis Puspa Indah pun berangkat dari Jombang menuju Landung Sari pukul 05:00. Kali ini ibis terlambat lagi, perjalanan yang biasanya bisa ditempuh 2 jam, menjadi 3 jam 45 menit.

Terpaksa jadwal rencana disesuaikan dengan kondisi. Jam 8 angkot bergerak dari Landung Sari menuju terminal Arjo Sari.

Perjalanan kami lanjutkan ke Tumpang. Jumlah rombongan bertambah 5 orang, jadi total ada 8 orang. Sekitar 45 menit kami sampai di Tumpang dengan ongkos 5rb/org.  Sementara temen2 sarapan, saya keliling mencari tempat fhotocopy (surat kesehatan dan KTP, masing2 2 lembar).

 

Mobil Jeep silih berganti mengangkut para pendaki di depan Alfamart. Tawar menawar mungkin ngga pas di sini, karena sudah ada standar harga yang ditentukan dari pihak penyedia angkutan, 30rb/org atau bisa dengan membayar 450rb untuk 1 mobil dengan penumpang maks 18 org.

Mobil pun berangkat pukul 12 siang lewat. Seperti biasa, mobil berhenti di balai TNTBS Gubugklakah untuk mengurus perijinan. Harga tiket masuk dibedakan antara, pelajar/mahasiswa, karyawan/swasta, wisatawan domestik dan wisatawan nondomestik.

Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati indahnya pemandangan, kebun apel, sungai kecil yang meliuk-liuk, kita juga bisa melihat rute perjalanan ke gunung bromo. Kurang lebih sekitar 2 jam, sudah sampai di Ranu Pane, mungkin karena kondisi jalan yang sudah mulai rusak sehingga memperlambat perjalanan dan banyak debu di sepanjang jalan.

Ranu pane merupakan nama sebuah desa, sekaligus nama sebuah danau (Ranu artinya Danau). Berada di ketinggian 2200 m dpl dengan luas sekitar 4 Ha. Di sini kita harus melapor ke Pusat Informasi. Tersedia mushola, warung makan, souvenir dan MCK.

 

Pekerjaan utama penduduk desa adalah petani tembakau, wortel, kubis dan aneka sayuran. Cuaca cerah saat kami berangkat.

Rute pendakian  dari Ranu Pane sampai Telaga Ranukumbolo tidak lah sulit untuk ditempuh, bahkan untuk pendaki pemula sekalipun. Banyak pelajar yang mendaki namun hanya sampai di Ranu  Kumbolo.

Menjelang maghrib, kami berisirahat sebentar, untuk memberi kesempatan saya berbuka puasa. Dan Alhamdulillah headlamp saya mati pas disaat hari sudah gelap.  Walhasil, saya terpaksa menggunakan senter cadangan.

Sekitar jam 7 malam, tampak dari kejauhan banyak cahaya remang. Tak terasa kami sudah sampai di Ranukumbolo. Hemmm,,, berrr,,, dingin. Tanpa menunggu lama, kami segera membangun tenda dan memasak air untuk makan malam.

Jam tangan saya menunjukkan suhu -30 C, menandakan bahwa udara di luar tenda lebih rendah lagi.

Cerita malam sesekali diselingi gelak tawa mengiringi kelelahan kami  setelah perjalanan menuju alam mimpi.

Saya tertawa pagi itu, air di panci telah ditutupi lapisan es tipis, menandakan betapa dingin udara luar malam itu. Saya bergegas menuju danau dan dengan tak sabar membasuh muka dengan segarnya air Ranu Kumbolo.

Udara yang benar2 steril, bebas  polusi.  Kabut tipis di atas air semakin mempercantik suasana. Sesekali, tampak dari kejauhan kepulan asap letusan dari kawah  jlonggring seloka.

Ranukumbolo dengan cerita yang terus mengalir di setiap pendaki yang singgah dengan penggalan kisah dan mimpi yang selalu menjadi inspirasi dan semangat.

Perjalanan masih jauh, Oro Oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan, Kali Mati, Arco Podho,  Puncak Semeru  Mahameru dan Kawah Jonggring Seloka.

To Be Continued,,,,,,

Pendakian Gunung Semeru. Ranu Kumbolo – Arco Podho (Part II)

Hari Ketiga Pendakian Gunung Semeru. Menggapai Mahameru (Part III)

Pendakian Gunung Semeru. Sunrise Ranu Kumbolo (Part IV-Terakhir)


Responses

  1. Assalamualaikum..salam kenal. apakah ada rencana untuk mendaki Semeru atau Bromo lg?? saya n teman ingin skali ksana, tp blm tahu jalurnya n blm ada pengalaman ksana.

    • Wassalamualaikum. Sementara tahun ini belum ada. Tahun depan insyaAllah, antara Februari – Mei


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: