Posted by: M'Creative | 4 January 2013

Pendakian Gunung Semeru. Sunrise Ranu Kumbolo (Part IV-Terakhir)


Ini merupakan tulisan terakhir dari empat tulisan "Pendakian Gunung Semeru, 23 -26 Agustus 2012".

Hal yang menyenangkan ketika turun dari Mahameru adalah turunan pasir.

Ketika naik, 2 langkah turun 1 langkah, namun ketika turun, 1 langkah bisa beberapa langkah bahkan bisa meluncur. Terasa menyenangkan sekali. Sebaiknya anda memakai sepatu tinggi, karena bisa dipastikan banyak kerikil yang bakal masuk di sepatu.

Namun debu yang dihasilkan sangat mengganggu pendaki lain yang naik, jadi sebaiknya mencari jalan lain, namun tetap berada di jalur. Karena takutnya keluar jalur dan tersesat, mengingat jalan yang akan dilalui hampir sama semua.

Hemat saya  ketika  mendaki Mahameru adalah berangkat sedini mungkin, kalau bisa paling pertama dan turun juga paling pertama. Dengan tips tersebut, setidaknya nafas kita tidak terganggu karena debu.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Arco Podho.  Sekitar pukul 10 pagi, kamis sudah siap untuk turun menuju Kalimati.

Kami beristirahat cukup lama di Kalimati. Tidak perlu membawa air banyak, karena setelah rute selanjutnya tidaklah sulit. Bahkan kami turun dengan berlari. Jambangan, Cemoro Kandang, Oro Oro Ombo dan sampailah di Ranu Kumbolo sekitar pukul 15:00.

Tidak menunggu lama, kami segera membangun tenda. Karena hari belum gelap, saya pun langsung nyebur bersih-bersih badan di segarnya air Ranu Kumbolo.

Tidak ada musholla, jadi jika hendak sholat, bisa di rumah kayu, tempat pos petugas.

Malam itu udara tidak begitu dingin.

Sekitar pukul 5 pagi, kami bangun mulai mempersiapkan minuman. Usai sholat shubuh, saya langsung keluar dari tenda dan mempersiapkan kamera untuk menjemput sunrise.

Kami mendirikan tenda dengan posisi yang pas untuk melihat sunrise.  Banyak pendaki lain yang telah bersiap-siap dengan kamera masing-masing.

Pukul 05:31, matahari mulai menampakkan sinarnya. Kabut tipis dipermukaan telaga semakin menambah keindahan pagi.  Semburat sinar matahari memantul di permukaan air seperti kaca cermin.

Pagi yang cerah. Sejenak semua beban masalah dan fikiran seperti rontok. Benar-benar fresh.

Kami benar-benar puas menikmati pendakian kali ini. Suasana pagi itu tak ubahnya seperti pasar tanpa pedagang. Seperti pantai tanpa pasir. Sungguh sesuatu yang  jarang bisa dijumpai di tempat lain.

Kami hanya sarapan telor goreng.  Pukul 09:00 kami pun meninggalkan Ranu Kumbolo dengan segala keindahan dan cerita.

Perlahan dan pasti Ranu Kumbolo semakin menjauh dari pandangan.

Karena jalur pendakian yang tidak begitu sulit, berlaripun tidak masalah bagi kami.

Sesuatu yang pas sekali, karena ketika sampai di bawah, banyak petani yang panen sayuran. Moment tepat untuk mengambil gambar.

Penduduk lokal dengan segala kesederhanaan hidup dan pola pikir. Hanya syukur dan berusaha menjalankan amanah Sang Pencipta. Menjaga dan melestarikan alam sebagai sahabat sekaligus sumber kehidupan.

Di Ranu Pane tersedia MCK, dengan air yang membuat kita harus bernyanyi sambil teriak karena sangat dingin.  Tersedia mushola yang dirawat sehingga tampak bersih dan nyaman untuk menunaikan sholat.

Jika hendak membeli aksesoris juga ada. Saran saya adalah, belilah ketika ada. Teman-teman saya tidak bisa membawa kaos oleh-oleh karena habis.

Pukul 15:00 kami pun benar-benar meninggalkan Ranu Pane.

Syukur yang tiada terkira kepada Allah SWT atas Semeru dan semuanya.

Terima Kasih kepada :

TNTBS (Taman Nasional Tengger Bromo Semeru)

Putu – Malang, Ryo Bajuri – Madiun, Ghazan – Jakarta

NEVER STOP EXPLORE


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: