Posted by: M'Creative | 17 February 2013

HAM, Penerapan dan Batasannya


Hukum dasar dari segala sesuatu adalah "boleh".  Jika tidak ada aturan yang melarangnya, berarti "boleh". ham Yang artinya manusia berhak untuk apa saja dengan syarat "tidak ada hukum yang melarangnya"  dan atau "tidak mengganggu kebebasan orang lain"

Hak Asasi Manusia atau yang lebih dikenal dengan HAM, merupakan hak dasar manusia yang dibawa sejak dilahirkan. Saya belum menemukan artikel yang menjelaskan, apakah HAM tersebut sampai mati, karena ketika manusia mati namanya berganti dengan "mayat".

Lantas kenapa seringkali agama membatasi hak asasi ini?

Naluri asli manusia adalah berbuat sesuka hatinya dan kehendaknya, namun di sisi lain manusia juga makhluk sosial, yang artinya ia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia butuh pasangan hidup, manusia butuh bersosialisasi dengan sesama manusia.

Apabila manusia adalah makhluk sosial, secara otomatis hal tersebut membatasi "naluri" manusia untuk berbuat sesuka hatinya.  Karena hanya dengan hidup seorang diri, manusia baru bisa berbuat sesuka hatinya tanpa ada batasan apapun yang menghalanginya.

Agama adalah aturan/norma dan agama telah mengetahui, bahwa manusia suka kebebasan, suka berbuat sesuka hati, terkadang tanpa mau tau apakah kebebasan itu mengganggu orang lain atau tidak. Karena itulah, agama hanya membahas "ATURAN YANG MENGATUR HAK ASASI TERSEBUT".

Namun seringkali hak asasi ini disalah artikan dan digunakan sebagai dalil untuk "kebebasan".

Semua orang bebas berpakaian atau tidak. Jika tidak berpakaian, hal tersebut mengganggu orang lain atau tidak? dan jika berpakaian apakah pakaian tersebut mengganggu orang lain atau tidak, karena setiap manusia berhak untuk melihat sesuatu yang disenanginya.

Semua orang bebas berpendapat, tapi perlu dilihat apakah pendapatnya itu menyangkut orang lain atau tidak, menyakiti atau menyenangkan orang lain. Karena setiap orang lain berhak untuk hidup tenang tanpa ada orang lain yang menyakitinya secara lisan maupun tindakan.

Agama memberi hak kepada manusia untuk  mengambil sumber daya alam bumi, namun agama membatasinya dengan "jangan sampai membuat kerusakan di bumi".

Agama memberi hak kepada manusia untuk berpendapat, namun agama membatasinya dengan "jangan sampai menyakiti orang lain".

Manusia bebas berbuat apa saja, salah kebebasan itu tidak membelenggu kebebasan orang lain. Karena itu diperlukan hukum/aturan untuk mengatur kebebasan itu.

Aturan dari keluarga, lingkungan, pemerintah dan Negara.

Tanpa ada batasan itu, manusia tidak lebih baik dari binatang, bahkan lebih buruk dari binatang.

"Mereka punya hati tapi mati rasa, mereka punya mata tapi matanya seakan-akan buta,  punya telinga tapi telinganya seakan-akan tuli, mereka lebih buruk dari binatang, bahkan lebih buruk lagi"


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: