Posted by: M'Creative | 24 February 2013

Barongko, Percayalah, Anda Harus Mencobanya!


Kampung Damai Pule, Watualang, 25 Februari 2013. Home sweet home

Hemm,,, rasanya waktu itu ingin membeli dalam jumlah banyak, kemudian dibawaOLYMPUS DIGITAL CAMERA         pulang buat oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Namun sayang, demi alasan “loyalitas”, saya terpaksa melanjutkan perjalanan ke Ujung Timur Indonesia, Papua.

Bis Bintang Prima yang saya tumpangi berhenti di persinggahan di sebuah rumah makan  untuk istirahat makan, kalau tidak salah di daerah Barru, sekitar 3 jam dari Makassar, Sulawesi Selatan. Saya turun dari bis dengan niat untuk sholat dhuhur dan tidak berniat untuk makan, karena memang masih kenyang. Namun, usai sholat saya melihat beberapa orang tengah melahap ‘bothok’,  tanpa nasi, yang kalau di Jawa dibuat dari kelapa parut dan bumbu dapur yang dicampur dengan berbagai bahan masakan, sayur, tempe, tahu, ikan, dll.

Karena penasaran, saya tidak langsung masuk bis Bintang Prima. Saya memesan 2 bungkus “bothok” dan segelas kopi.

Tidak lama, pesanan pun datang, dan tada,,, makanan yang dibungkus daun pisang tersebut ternyata bukanlah bothok, namun sejenis makanan yang lidah saya baru pertama kali merasakannya. Dari rasanya, saya tahu makanan tersebut berbahan dasar pisang, seperti dodol pisang dari kediri, namun ini lebih lembut dan lebih nikmat.

Barongko. Ya orang Bugis di Sulawesi Selatan biasa menyebutnya Barongko.

Disajikan dalam keadaan dingin seperti puding, namun saya kira puding tidak senyaman ini. Barongko terasa nyaman di perut, sama sekali tidak membuat “sebah” . Seperti memakan sejenis jelly atau agar-agar, namun Barongko lebih  terasa enak di lidah, lembut dan nyaman di usus, karena memang sudah dihaluskan.

Apa yang membuat saya begitu menikmati Barongko, makanan khas bugis ini? Rasanya original pisang, teksturnya lembut, manisnya legit, aromanya sedap karena dibungkus dengan daun pisang dan disajikan dingin akan terasa lebih nikmat.

Barongko memang tidak begitu terkenal layaknya coto, es pisang ijo maupun konro. Karena Barongko bukanlah hidangan utama, makanan khas orang bugis ini adalah desert, hidangan penutup, sehingga memang harus ada hidangan utama sebelum hidangan penutup, Barongko disajikan.

Seperti halnya Ketupat, Barongko hanya dibuat dan disajikan pada acara-acara tertentu, hajatan khitan, pernikahan, syukuran dan lain-lain. Barongko dahulunya merupakan makanan penutup untuk para raja-raja Bugis, walaupun covernya mungkin kurang meyakinkan, namun rasanya sangat layak diacungi 10 jempol, hehehehe.

Penjual Coto Makassar, Konro maupun es Pisang Ijo, harusnya memasukan “barongko” ke dalam daftar menu, karena saya yakin, semua orang menyukainya, dalam artian cocok untuk lidah orang Indonesia, mulai dari sabang sampai merauke. Mungkin yang perlu disesuaikan adalah kadar gulanya, jangan terlalu manis ataupun sebaliknya, terlalu tawar.

Namun sayangnya, saya belum pernah menemukan kue Barongko setelah itu, sampai sekarang.

Dedicated for : Nirma, Putri, Mala n of course, yudo mamen


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: